Wednesday, September 08, 2004

Restorasi Imaji



Kawan,
tentu kau masih ingat,
imaji-imaji yang pernah kita bagi,
diskusi-diskusi yang pernah kita alami,
dan dompet-dompet kita yang pernah hampir-hampir kosong,
namun kita paksa senyum untuk tetap mengembang.


Kawan,
Masih ingatkah kau ketika dengan penuh amarah,
Aku mempertanyakan Tuhan,
Lalu kukeluarkan segepok Ibnu Arabi dari kantungku,
Dan Tuhan kuandai-andaikan seolah-olah Ia seperti
Sesuatu yang pernah kita kenal dan pegang,
Kau hanya diam, tersenyum getir,
Tapi tetap tenang berargumentasi.
Dan imajiku pun terbang bebas melayang.



Kawan,
Lalu aku datang kembali kepadamu,
Dan kubawa Rumi dan Rabiah kepadamu,
Kau juga hanya tersenyum dan imajiku pun terbang bebas,
Dan lain waktu aku bawa imaji-imaji yang lain,
Marx, Feurbach sampai seringai-seringai Che Guevarra,
Kau hanya tersenyum.
Dan biarkan imaji kita berkembang disana.



Kawan,
Masih ingatkah ketika kuceritakan padamu,
Tentang hidup yang keras pada kita,
Dan seolah-olah tidak adil,
Dan kita hanya bisa memandang langit-langit kamar,
Yang tentu saja hanya diam membisu.


Masih ingatkah engkau, kawan,
Saat kau menangis dan ucapkan sumpah serapah,
Pada hidup yang memang keras, dan kadang kejam,
Lalu aku tampung tetes-tetes airmata itu,
Dan kita ubah bersama-sama menjadi sebentuk harapan,
Harapan bahwa akan selalu ada kesempatan buat orang-orang,
Seperti engkau dan aku.


Kawan,
Aku ingat hari-hari itu,
Dan ‘kubuat sebuah lukisan imaji,
Imaji yang tak kan pernah berhenti.

*jabier*/Feb 2001/republished March 2004
(Sambil memandang langit-langit kamar kos2 an 2x3 meter di Keputih “indah” berseri)

0 Comments:

beri komentar

<< Home