Tuesday, September 14, 2004

Kegetiran dalam Sabda Sang Puteri

Renungan terhadap sajak-sajak Emily Dickinson


“Hope is a thing with feathers,
that perches to the soul,
and sing a tune without words,
and never stops at all.”

-Hope is a Thing with Feathers by Emily Dickinson (1830-1886)


Hmm, entah kenapa malam ini saya teringat dengan sajak-sajak yang ditulis oleh Emily Dickinson, seorang penyair wanita Amerika paling berpengaruh di awal abad 20. Anda bisa mendapatkan sajak-sajak Dickinson yang terangkum dalam Series One dan Selected Poems di alamat http://www.gutenberg.net/etext/2679

Sajak-sajak Dickinson selalu bercirikan paradoksal, di satu sisi amat getir menceritakan luka karena cinta, keputusasaan, kepahitan hidup dan lain-lain; sementara di sisi lain dia juga piawai melukiskan keindahan, cinta, semangat dan kebahagiaan. Walaupun bagian pertama lebih banyak mewarnai sajak-sajak yang ditulisnya, akan tetapi sisi paradoksal dalam berkarya ini juga dialami oleh penyair-penyair lain di zamannya, seperti juga sang kampiun filsafat transedental, Ralph Waldo Emerson.

Membaca Dickinson adalah membaca sebuah buku yang teramat dalam dan begitu kaya warna. Kegetiran, --seperti juga akan getirnya kehidupan pribadi Emily--, akan kita temui dengan kata-kata ‘khas’ penyair, yang penuh sayap, kadang-kadang lugas tanpa ampun, seperti kita lihat dalam sajak Letter To The World, :

This is my letter to the world,

That never wrote to me, --

The simple news that Nature told,

With tender majesty



Bukankah dalam sajak ini, Dickinson seolah menyindir (dengan getir dan pedas), kehidupannya di dunia ini yang seolah tak pernah mendapatkan nasib yang baik (setidaknya bagi dirinya sendiri) ? Terlahir sebagai salah satu generasi pertama American society yang educated di kota Amherst, Massachusets, Emily adalah seorang yang pandai menggunakan dan memahami baik logika dan filsafat, sesuatu yang amat jarang dimengerti oleh kaumnya, apalagi pada waktu itu. Sajak-sajaknya membuktikan kepiawaiannya memainkan dua hal tersebut, disamping ekspresi yang bisa dibilang extra-ordinary dalam pengungkapan makna-makna.




Bagi saya, kekuatan utama dari Dickinson adalah kedalaman sajak-sajaknya dalam mengungkapkan makna, khususnya ekspresi-ekspresi yang berkaitan dengan kegetiran hidup dan cinta. Sebuah hal yang tentunya, ketika kita mempelajari lebih jauh, tercipta dari sebuah pengalaman pribadi sang penyair. Hal ini tentunya tidak aneh, sama seperti apa yang diungkapkan Pasternak, atau Dostoyevski, dan kita bisa juga menyebut Chairil Anwar. Kita bisa lihat dari potongan-potongan sajak The Contract :


I gave myself to him,

And took himself for pay.

The solemn contract of a life

Was ratified this way.

The wealth might disappoint,

Myself a poorer prove

Than this great purchaser suspect,

The daily own of Love

Ah, Emily, sungguh jauh terentang batas waktu antara kita. Membaca sajak-sajakmu, adalah membaca sebuah perjalanan cinta, dari sisi yang tak pernah kita bayangkan. Selama ini mungkin kita hanya mendengar Shakespeare dengan tragedi Romeo-Julietnya, atau kegetiran Mangun Wijaya dalam Burung-Burung Manyar. Kegetiran yang selalu berpihak dalam satu sisi, --sang korban--, tapi dalam sajak-sajakmu aku membaca kegetiran dalam berbagai sisi, sang korban, sang pelaku, dan sang penutur. Sungguh hebat bukan ?

Hmm, suara serak Syaharani melantunkan “A Whiter Shade of Pale”-nya Annie Lenox menyadarkan lamunanku atasmu, Emily. Teringat engkau, teringat sekuntum bunga terindah yang pernah mengisi taman hatiku. Saat ini, --entah mekar, entah kuncup--, berada nun jauh disana, di Kazakhstan.

Emily, hidup memang tak selalu indah, tapi juga tak selalu getir!


Batu Hijau, Medio September 2004.

Jody Ananda



0 Comments:

beri komentar

<< Home