Saturday, September 25, 2004

Filsafat dan Dian Sastro

Kalau anda membaca judul diatas, mungkin bertanya dalam hati, ”Memang ada hubungan antara filsafat dan Dian Sastro ? ”. ”Ada !”, kata beberapa orang yang mungkin pernah membaca mengenai riwayat si pelakon sinema AADC ini dan mengetahui bahwa si cantik ini memang mahasiswa filsafat di Universitas Indonesia. Terlepas dari ”aneh dan uniknya” pilihan jurusan yang di ambil Dian, kita acungi jempol atas kegairahannya untuk menjelajahi basis-basis pemikiran rumit dari sebuah ilmu yang bernama filsafat, yang orang-orangnya mungkin tidaklah fotogenik (he..he.. saya membayangkan kalau Dian bersanding dan mewawancarai model-model orang seperti Marx, Hegel atau mungkin Gramsci, hmm..must be pretty much weird !).

Saya tertarik dengan filsafat sejak kelas 2 SMA (ini memang diawali dengan hobby saya yang gemar membaca dari sekolah dasar dulu) di pertengahan 1992 (jadi jauh sebelum Dian Sastro terkenal ya, kalau ada anggapan bahwa saya tertarik dengan filsafat karena Dian Sastro, lol). Dari mulai yang ringan-ringan seperti teologi pembebasannya Paolo Frerie, Sartre, Freud, al-Banna, Hassan Hanafi, sampai dengan yang ”berat-berat” seperti Marx, Hegel, Ibnu Rusyd dan Ibnu Arabi. Yang saya maksud dengan berat adalah resiko atas keyakinan yang bisa berubah (dari sisi iman dan akidah), yang tentu dalam pandangan saya sangat berat. Dus, mana ada sih bagian filsafat yang dianggap ringan ? Ada juga seorang rekan yang saya masih ingat sampai sekarang, Guswandi, yang juga tertarik dengan filsafat pada waktu itu, dan kita bisa menjadi teman diskusi yang sama-sama ”gila” J

Maka dari pengembaraan pemikiran saya sekian lama itu, bahkan pernah saya menjadi ”atheis” secara pemikiran (ketika waktu SMP saya membaca novel ”Atheis” karangan Achdiat Kartamiharja, saya masih belum bisa menangkap idea ketika Hasan sang tokoh utama yang tadinya sangat religius, akhirnya menjadi atheis). Sampai saya bersentuhan dengan pemikiran-pemikiran dari Marx dan Feurbach. Untunglah periode itu tidak berapa lama, karena ada rekan-rekan yang akhirnya ”menyelamatkan” pemikiran saya yang sempat mereka bilang gila. Salah seorang, kalau boleh saya sebut disini, adalah sahabat saya Agus Subhan Akbar, yang punya kajian cukup mendalam terhadap filsafat sufistik Al-Ghazali dan Ibnu Arabi.

Gila ? Yes, you’re damn right ! Jika anda masuk ke dalam filsafat, anda akan bisa ”gila” (at least secara pemikiran). Kalau tidak, pasti rekan-rekan anda yang akan bilang anda gila ! (Dalam kasus Dian Sastro, dia sendiri mengakui bahwa pilihannya terhadap filsafat adalah pilihan yang ”gendheng” alias gokil alias gila, dan dalam kasus ini Dian sempat ”menyalahkan” bahwa itu adalah penyakit turunan dari almarhum ayahnya,..ha..ha..ha.. bisa aja Dian !). Tapi kalaupun begitu, kita bisa bilang Dian Sastro adalah orang gila yang cantik !

Ketika berkunjung ke markas LkiS (Lembaga Kajian Islam dan Sosial, salah satu tokohnya waktu itu Mas Sastro Ngatawi, sekarang ditulis Al-Zastrouw biar lebih keren katanya) di Jogja, saya pun menemukan sebagian orang-orangnya adalah orang-orang ”gila”. Syafiq, rekan saya yang Ketua Senat IAIN Sunan Ampel Surabaya tahun 1996-an, bisa berjam-jam menguraikan filsafat materialisme historis-nya Marx dengan sangat baik dan ahli, mungkin kalau Marx masih hidup dia pun akan tercengang-cengang, dan mungkin akan bingung karena semua itu keluar dari mulut seorang eks santri Gontor !

Sederhananya, filsafat adalah sebuah proses dialektika (baca : proses untuk mempertanyakan sesuatu secara terus menerus), yang berusaha menemukan tesa, mengkritiknya dengan anti-tesa, yang kemudian menjadi sintesa. Sintesa ini kemudian diulang kembali prosesnya melalui rantai dialektika yang lain.

Hey, are you still there ? Semoga tulisan saya tidak menjadi terlalu berat, karena memang bukan itu maksud tujuan tulisan ini. By the way, ketika menjadi pemred Swara Mahasiswa di ITS, saya sempat menulis beberapa artikel untuk menjelaskan filsafat secara populer, yang saya beri nama Pojok Filsafat.

Oke kita lanjut lagi. Salah satu alat dalam filsafat adalah logika, logics. Saya tidak mengatakan bahwa kalau anda tidak suka dan emoh dengan filsafat, anda berarti tidak memiliki logika. Tentu tidak. Logika sudah sering kita pakai sehari-hari untuk menjelaskan hubungan sebab akibat. (Pernyataan paling umum mungkin adalah ”tidak ada asap, jika tidak ada api”, ”benda yang dilempar keatas, pasti jatuh kebawah”, dll, walaupun rekan saya dari Jurusan Fisika mengatakan asap bisa timbul tanpa api, tapi melalui fried ice).

So, dalam filsafat, logika anda nanti akan dikembangkan lebih lanjut dengan metodologi yang tentunya beraneka ragam. Dari sini, nantinya, kita akan lebih mudah untuk memahami alur pemikiran-pemikiran besar dalam sejarah, yah paling tidak walaupun tidak sampai 100 persen, tapi cukup untuk memahami streamline dari pemikiran tersebut.

Kadang, beberapa rekan bertanya, ”Jod, elu mahasiswa Teknik Informatika atau Filsafat ? ”. Bukan, saya bukan mahasiswa filsafat, Dian Sastro yang mahasiswa jurusan Filsafat. Saya hanya ”penikmat” Dian Sastro (jangan berpikiran macam-macam, maksudnya saya pun menikmati dan memuji aktingnya yang bagus di AADC), dan juga ”penikmat” dan pemerhati sebuah ilmu yang bernama filsafat. Jadi saya sarankan anda untuk bertanya ke Dian dalam masalah filsafat, bukan ke saya ! (Saya membayangkan bagaimana rupanya Dian kalau berbicara filsafat ya ?Ah, it’s just the same absolutely, the same Dian. Right, Dian ? )

Toh, filsafat juga tidak membuat Dian dan saya menjadi bertampang seperti Plato atau Marx yang serius dan ”garang” ! Ha..ha..ha..lihat saja Dian yang selalu cool dan funky ketika membawakan Panasonic Cinema. Dan saya ? Ah, kalau saya segarang Marx, tentunya sudah lama polisi menangkap saya, dan saya tidak bisa menikmati suara seraknya Sarah Vaughan yang jazz banget, karena jazz adalah produk kapitalis.

Saya hanya merasa beruntung pernah sempat mempelajari filsafat, dan itu membuat pisau analisa saya, paling tidak, lebih tajam ketika menganalisa persoalan-persoalan hidup ini, baik pribadi maupun umum. Saya yakin , Dian punya pendapat yang sama.

Well, suara mendayu-dayu Diana Krall menyanyikan ”Stop This World” sudah mulai habis, and I have to stop these words !

Selamat berfilsafat ria !

Mataram, 25 September 2004
Jody Ananda

1 Comments:

Anonymous Aldo said...

Sangat informatif dan menambah wawasan saya dalam pencarian saat ini. Karena yang saya saat ini cari adalah "Mengapa Dian Sastro pindah agama ke Islam? Atau yang dapat kita katakan adalah mualaf". Dari semua informasi yang cari tentang Dian, dari dia mengatakan bahwa "memang dari keinginan hati untuk jadi mualaf" sedangkan menurut pemikiran logika saya itu seharusnya ada alasan lain "mengapa hati Dian ingin mualaf?"

Setelah saya membaca blog Anda ini, saya dapat menyimpulkan menurut pandangan kacamata saya bahwa Ilmu Filsafat yang dianut selama Dian Sastro menjadi mahasiswa UI itulah yang menggerakkan hatinya untuk pindah agama ke Islam. Hal ini dapat saya katakan karena mungkin saja banyak informasi yang Dian Sastro gali mengenai kebenaran tentang agama mengenai Ibunya (Katholik), dan mengapa Ayahnya yang juga berpindah agama menjadi Buddha.

Apakah ini sejalan dengan pendapat Anda?

February 15, 2017 at 12:41 AM  

beri komentar

<< Home