Antara Kopi & Jazz : When Jazz Meets Coffee
Kali ini, kembali saya berbicara mengenai jazz, tapi kali ini kaitannya dengan kopi. Saya tidak mengkategorikan diri saya sebagai seorang yang ahli dalam ilmu per-jazz-an, tapi lebih suka menyebut diri saya seorang ”penikmat” dan pemerhati jazz saja.
Hmm, ya, adik saya, Vicka (Vicka ini bukan adik ”biologis”, tapi si mungil ini adalah junior saya di teknik informatika ITS), pernah menyatakan pada saya bahwa dia suka mendengarkan Krall sambil menikmati machiato-nya, compare dengan saya yang lebih suka espresso dan cappucino (and other real black coffee). Atau Danang, yang nge-fan dengan suara serak dan beratnya Syaharani, --dan kopinya adalah the real jazz lovers coffee--, kental, hitam dan panas.
Saat saya berjalan-jalan malam ini dan mampir di Disctarra, kebetulan saya melihat beberapa kaset jazz yang related dengan kopi. Ada Jazz and Espresso, Jazz and Latte, Jazz and Capuccina, Coffee at Jazz dll. Apa sebenarnya hubungan antara Jazz dan kopi ? Kenapa tidak ”Jazz and Jack Daniels”, ”Jazz and Jim Beam” atau ”Jazz and Scotch Whiskey” ? Mungkin Danang akan menambahkan, why not “Jazz and Tequila” ya nang ? ha..ha.ha..
Saya mengasumsikan, bahwa ini lebih karena faktor historis dari jazz itu sendiri, seperti yang pernah saya tulis di tulisan saya ”Mentertawai Kepahitan Hidup dengan Jazz dan Blues”. Anda mungkin pernah mendengar beberapa ungkapan bahwa “Lebih enak menikmati reggae sambil menghisap marijuana (cover kasetnya gitaris Marley berlatar belakang ladang marijuana)”, atau ”Top banget deh nge-disko sambil nenggak tequila dan brainwash”, atau “mendengar musik klasik sambil minum wine “, Wah, enak banget yach ! Ternyata setiap musik punya minuman favorit masing-masing ! (Kalau dangdut, nah ini dia,..mungkin dengan tuak ya? Heheheh )
Kembali pada jazz, musik ini berlatar belakang semangat pembebasan dengan setting ladang-ladang di New Orleans dan Tenesse. Bisa jadi, jazz identik dengan kopi karena kopi juga dihasilkan di ladang kopi, atau karena warna kopi kan hitam (sama seperti origin dari jazz itu sendiri sebagai black music). Atau bisa juga mungkin melihat dari komunitas jazz yang lebih sopan dan elegan sesuai dengan karakter musik jazz (anda belum pernah menyaksikan konser jazz dimana orang-orangnya ber-headbang atau throw in a row kan ?). Dalam suasana yang elegan, romantik dan sexy seperti itu, tentunya minuman yang cocok bukanlah sebangsa tequila atau Jim Beam atau wiski. Kopi (dan mungkin wine) bisa lah masuk dalam kategori tersebut.
Saya lebih suka dengan pendapat terakhir diatas dalam mencari kaitan antara kopi dan jazz. Ada hubungan timbal balik antara musik dan komunitasnya. Musik memberi warna dan karakter bagi para penggemarnya, sementara di sisi lain komunitas ini juga secara perlahan-lahan akan mengkonvensi diri untuk memberik karakter bagi musik tersebut. Sama seperti dress code yang ada kalau kita ingin menghadiri suatu party. Anda tidak akan boleh masuk dalam suatu pagelaran opera klasik tanpa memakai jas atau tuxedo, suatu hal yang akan bertolak belakang jika menghadiri konser grup Metallica.
Tentu saja, tidak ada larangan bagi anda untuk menikmati jazz sambil minum wedang jahe sekalipun, atau mendengarkan teriakan suara Avril Levigne dengan segelas jus jeruk.
Tapi untuk jazz, akan terasa lain bedanya ketika menikmati lengkingan saxophone Dave Koz yang genit, seksi dan merayu, atau Krall yang serak dan agak berat, atau Norah Jones yang mendayu-dayu bagaikan suara bidadari, sambil menikmati segelas kopi hitam yang nikmat. Seperti yang sedang saya lakukan malam ini.
So, Vicka, go get your cup of coffee soon, !
Selamat ngopi !
Mataram, 25 September 2004
Jody Ananda

2 Comments:
this one... reminds me of Seno Gumira Ajidarma's entitled (kalo gk salah) "Jazz,Parfum dan Insiden"...gaya bertuturnya... Seno bangeeettt
Aku baru aja mau nulis tentang jazz dan kopi, tapi rupanya ada tulisan yg bagus ini :)
Ngga mirip Seno Gumira ah... beda style... but it's great, really :)
beri komentar
<< Home