Thursday, May 19, 2005

There are people that were born as B*tch*s..

Membaca beberapa episode kehidupan dari orang-orang seperti Azhari's girls (Ayu, Sarah dan Rachma), SL (Sophia Latjuba) et cetera hanya membuat kita terperangah atas kelakuan (baca:attitude) mereka. Dengan bangganya memamerkan ke-sexy-an dan "keterbukaan" dalam sebuah public appearance, dan dengan mengungkapkan, --dalam bahasa saya--, a brain damn foolish reason.

Kenapa saya bilang begitu ? Saya tidak berusaha menjadi seorang moralis seperti Aa Gym atau Arifin Ilham. Biarlah masalah fatwa de el el menjadi urusan para ulama. Yang saya sikapi adalah masalah attitude yang sedikit nyerempet ke ethics.

Di tahun 1980-an, seorang senator Amerika, Gary Hart, terpaksa mengundurkan diri dari pencalonannya sebagai presiden Amerika karena tertimpa kasus "esek-esek" dengan model Donna Rice, di kapal "Monkey Business". US, yang kata orang menghalalkan segala bentuk kebebasan (politik, budaya, seks dll), yang menjadi markas penerbit majalah playboy, penthouse, yang menjadi pusat anti-establishment, ternyata berbicara lain ketika menyangkut penampilan publik dan standar moral, apalagi ketika hal itu menimpa calon pemimpin mereka. Dan lihatlah reaksi masyarakat Amerika yang terperangah dan mengecam aksi Janet Jackson dalam acara Superbowl tahun lalu yang melakukan pornoaksi di depan TV.

Aktris Angelina Jolie, --I love this bitch when she played "Girl, Interrupted!"-- betapa pun liarnya kehidupan pribadi-nya, tetapi pada saat tampil dalam public appearance, adalah sosok yang sangat keibuan dan mencintai anak angkatnya, Maddox.

So, what's my point here ?

You have to split between personal and public area. Saya tidak perduli apa yang anda lakukan dalam wilayah personal anda, tapi ketika anda tampil dalam sebuah ruang publik, lakukan hal-hal yang pantas dengan tingkah laku dan ucapan yang cerdas. "Biasa, kan cewek..sexy gitu lho! Semakin sexy, semakin OK " ungkapan Sarah Azhari hanya mencerminkan perbandingan terbalik on her brain capacity.

Atau seperti ungkapan teman saya, "There are people that were born as bitches." Saya pribadi menambahkan, "If you are bitch, then make it smart !". Jangan seperti Paris Hilton, dan orang-orang yang sudah saya sebut diatas.

Salam,
Denpasar, April 2005

Mas Jabier

Wednesday, April 27, 2005

Plagiator, Dimanakah engkau ?

Joe Millionaire. Topeng. xxx Ilahi. xxx Ilahi. Dan lain-lain.

Beberapa hari kita melihat tampilan sinetron-sinetron, reality show dan lain sebagainya, yang bagi saya, banyak nuansa plagiat. Lihatlah Joe Millionaire, acara yang sebaiknya tidak usah ditonton, dan sangat jauh dari versi asalnya di Amerika. Come on guys, be creative ! Apa tidak ada versi lain yang lebih membumi, dan --ini pendapat personal saya--, it's not good to sell "love" either tragic or comedy, for public consumption.

Indonesia memang aneh. Saat jaman acara-acara berbau magis tampil populer di TV, maka berduyun-duyun TV lain memproduksinya. Gentayangan, Dunia Lain, Pemburu hantu (Ghostbuster), Dunia Ghaib dll yang cuman memainkan akal2an plus acting pantomim yang bisa diberi acungan jempol kaki. Saat ini, ketika sinetron berbau religius (meskipun masih ada unsur klenik + magic) populer, maka beramai-ramai TV lain memproduseri acara yang sama : Takdir Ilahi, Kuasa Ilahi, TV Legenda, Astagfirullah, dan lain-lain.

Benarkah kita hanya terpaku pada trend, mode, apa yang laku dan tidak, tanpa membuat sebuah modifikasi cerdas dari apa yang ingin kita tiru ? LIhatlah sinetron "Topeng", yang jelas-jelas plagiat dari "The Mask" yang menjadi debut Jim Carrey di tahun 95 ? Saya juga pernah mementaskan naskah "Topeng Bah !" yang saya tulis sendiri bersama Teater Tiyang Alit di tahun 1996, but it's totally different situation & theme. Lihatlah sinetron itu : seseorang secara tidak sengaja menemukan topeng, memakainya, dan berubah menjadi individu lain dengan kemampuan2 supranatural. Dan bandingkan dengan "The Mask".

Cobalah liat proses kreatif Quentin Tarantino, yang membuat sekuel Kill Bill. Jelas-jelas dia mengakui bahwa karya itu di-ilhami dari film lokal Jepang (saya lupa namanya), tapi dia memodifikasi, --dan bahkan -- "menafsirkan" sehingga menjadi khas Hollywood, dan enak dilihat.

Lihat juga acara kontes2, yang dengan cepat diikuti acara kontes Model, Dangdut, AFI Junior (C'mon guys, they're just kids !), dan lain-lain. Tampaknya, pengekoran, telah menjadi bagian dari budaya kita.

Maaf, bukan berarti saya mewajibkan bahwa kita harus selalu menemukan judul baru, theme baru atau apa lah. Para penyair juga sering melakukan penafsiran atas suatu karya, dan itu bukan plagiat. Kata-kata "inspired by" menjadi sangat populer di beberapa lagu, film atau cerita.

Hanya, kita harus menulis kembali dengan cerdas. Konteks yang berbeda. Konflik yang lebih localized, atau bahkan menambahkan keunikan dari gaya kita masing-masing ke dalam suatu karya. Dan bagi saya, itu adalah suatu proses kreatif yang berdiri sendiri.

Salam,

Denpasar, April 2005

Mas Jabier

Tuesday, April 26, 2005

Simbolisme dan Formalisme dalam Kehidupan Spiritual



Kaligrafi
"Tuhan, Engkau tahu aku seorang illiterate, buta huruf dan tidak mengerti bagaimana seharusnya berdo'a kepadamu dengan benar. Karena itu, aku serahkan kumpulan huruf dalam surat ini, aturlah sesuka-Mu menjadi do'a yang terbaik, karena Engkaulah Sang Maha Indah. Padamu hanya kuserahkan ketulusan dan kepasrahan.."

Sebuah penggalan dari kisah Do'a Sang Katak, karangan Pater De Mello, yang saya kagumi karena esensinya yang mendalam.

Semangat simbolisme (baca:formalisme) dalam beragama, sudah dimulai jauh-jauh hari, bahkan ketika suatu bentuk budaya yang bernama agama, lahir ke muka bumi ini. Semangat ini ditandai dengan menguatnya unsur-unsur puritanisme, lembaga yang memiliki kekuasaan yang sangat besar, dan aturan-aturan kaku yang hanya berbicara benar dan salah, tanpa memahami hubungan sebab akibat dan kondisi yang berlaku.

Tradisi agama-agama besar juga pernah (dan mungkin) masih dipenuhi dengan kuatnya simbolisme dan formalisme dalam kesehariannya. Kristen Katolik dengan lembaga kepausan, doktrin-doktrin Nicea (yang kemudian di-revisi dalam kaitannya dengan wanita dan ilmu pengetahuan), Islam pada masa kekhalifahan Abbasiyah yang menjadi ajang perseteruan antara Sunnah-Syiah yang sebenarnya lebih bertendensi politis ketimbang teologis, Budha pada masa awal pembentukan Aliran Zen Mahayana di Cina dan lain-lain.

Kekakuan dalam menerima doktrin tanpa mau melihat perkembangan kehidupan manusia, dan penghormatan berlebihan terhadap simbol, menjadikan prinsip formalisme ini menjadi sebuah kekuatan politik, --yang dengan demikian--, memiliki kekuatan untuk menghukum, siapa saja yang dianggap tidak sealiran,..dus tidak sesuai dengan pesan yang tercantum dalam kitab suci.

Kita sekali lagi dihadapkan dengan insiden simbolisme ini pada band Dewa, yang menggunakan kaligrafi sebagai cover, versus FPI yang mewakili sisi formal dalam agama. Kejadian yang sama pernah juga dialami Iwan Fals pada cover kaset dan CD-nya.

Saya pernah bertanya kepada seorang rekan : "Ketika engkau memandang salib, apa yang kamu pandang paling penting, simbol salib, Yesus yang disalibkan, atau nilai-nilai universal yang dibawa oleh orang yang disalibkan (Yesus) ?" . Teman saya menjawab yang terakhir, yang artinya dia telah ada pada tahap diatas formalisme dalam beragama, dia sudah me


Sunday, April 24, 2005

Kisah Para Diktator

"Ketika kediktatoran menjadi kenyataan, maka revolusi menjadi sebuah kebenaran." Victor Hugo

Tadi malam, saya membuka-buka kembali buku "Kisah Para Diktator : Sebuah Biograpi singkat" karangan Jules Verne. Sebenarnya saya sudah pernah membacanya, tapi saya tergerak membaca kembali, disamping karena memang saya susah tidur jika tidak membaca sesuatu, ada satu tokoh yang ingin saya baca di buku itu : Soekarno.

Apakah Soekarno seorang diktator ? Menurut definisi diktator itu sendiri, jelas Ya. Kita semua tahu di era Demokrasi Terpimpin dimana semua kekuasaan terpusat pada Soekarno, pada saat itulah kita tahu bahwa ia sudah menjadi seorang diktator dengan beragam gelar : Pemimpin Besar Revolusi, Pimpinan Tertinggi Angkatan Perang, dll. Saya sendiri adalah pengagum Soekarno, dengan segala kelebihan dan kekurangannya sebagai manusia biasa.

Tidak dapat disangkal, diktator adalah orang-orang yang dianugerahi kecerdasan yang sangat tinggi. Hitler, Mussollini, Franco, Castro untuk menyebut tokoh2 cerdas yang mampu menggunakan kesempatan, mengatur sumberdaya untuk mengambil alih kekuasaan, baik secara fisik/militer maupun secara demokratis. Dalam bahasa singkat, mereka mempunya IQ yang tinggi.

Bagaimana dengan EQ (Emotional Quotient) ? Jelas, mereka sebagian besar memilikinya. Jika tidak, bagaimana mungkin seorang Mao Tse Tung mampu membawa 100 ribu pengikutnya melakukan long march dari Kiangsi, melewati ratusan pertempuran, belasan sungai, puluhan jurang dengan penuh ketenangan dan perhitungan ? Bagaimana mungkin seorang Castro, mampu berteriak di depan pengadilan Batista : "Bunuhlah aku, dan sejarah akan mengingatku ! " dengan gagah berani dan tenang ?

Lalu apa yang membuat mereka menjadi Diktator ? Ary Ginanjar Agustian mengatakan hilangnya faktor S (Spiritual) dalam kelebihan IQ dan EQ mereka. Kalau saja mereka memiliki S, sehingga menjadi ESQ, yang terjadi tentu tidaklah sebuah kediktatoran, akan tetapi sebuah amanah kepemimpinan untuk memakmurkan dan menyejahterakan rakyat.

So, I read again Ary's book : ESQ (Emotional Spiritual Quotient), yang sebenarnya juga sudah saya baca..ha..ha..ha..:) Tapi ya itulah, tidak mudah bagi orang seperti saya untuk langsung tidur tanpa membaca terlebih dahulu.

Kali ini saya membacanya dengan pelan-pelan, mencoba mencari berbagai hubungan. Insya Allah, analisa saya mengenai buku ini akan saya bagikan dalam posting mendatang.

Jadi, masih tertarik menjadi diktator ?

Denpasar, April 2005

Salam,

Mas Jabier

Always With You, Always with Me ..

Joe Satriani, jelaslah seorang "Dewa", God, dalam ilmu gitar. Seorang virtuoso sejati yang memadukan teknik-teknik bermain Rock dan Blues secara apik, dengan lengkingan melodi yang khas dan memukau.

Saya memiliki dua DVD Satch (panggilan Satriani), satu "Live in San Fransisco" dan satu lagi ketika dia berkolaborasi dengan Steve Vai (murid sekaligus sahabatnya), dan Yngwie Malmsteen dalam konser G3, Live in Denver.

Mengapa saya ingin sharing "Always With You, Always With Me " ini ? Sekitar 5 tahun yang lalu, waktu saya masih bekerja di RAD-Net, lagu inilah yang sering menemani malam-malam yang panjang, coding dengan Perl dan PHP, ngadmin, dan lain-lain kerjaan orang gila di waktu malam. Arpeggio yang manis, dan lengkingan melodi yang membawa suasana yang benar-benar asyik. It's really like always with someone you want to be with !

Jadi di keheningan malam, tangan-tangan saya pun seringkali asyik memainkan melodi arpeggio dari lagu yang indah ini. Tentu, tidaklah sebagus Satriani, sang Dewa, tapi paling tidak lumayan untuk didengar diri sendiri. Bagi mereka yang juga gitaris atau sekedar ingin lihat tablature dan partiture-nya, silakan download disini.

So, are you gonna sit with me, and sing "Always with Jabier" ? ;-)

Denpasar, April 2005

Mas Jabier

Friday, October 15, 2004

Di pintumu Aku Mengetuk

Ramadhan,
Orang-orang menyebutmu bulan Suci,
Namun aku selalu terhijab dari kesucianmu,
Di pintumu aku mengetuk.

Ramadhan,
Orang-orang menyebutnya Syahrul Jihad,
Namun adakah aku pernah berjuang ?
Membela kesucian agama dan nabi yang mulia,
Di pintumu aku bersimpuh.

Ramadhan,
Orang-orang menyebutmu Syahrul Tarbiyah,
Bulan dimana orang-orang mendapatkan pelajaran,
Bagi hidupnya yang penuh kehinaan,
Namun aku selalu berlindung dibalik kebodohan,
Dan di pintumu kini aku berlutut.

Adakah makna hakiki yang perah kutelusuri ?
Melalui jejak-jejak para rasul dan nabi,
Jejak-jejak ulama yang saleh dan jujur,
Yang menjaga hari hari mu dengan ibadah,
Khusyuk mengasuh cinta kepada-Nya.
Ramadhan,

Di pintumu aku mengetuk.
Entah untuk yang ke berapa kali.
Batu Hijau, 13 Oktober 2004

Jody Ananda